Sunday, February 20, 2011

It has to be you

“Kyuuuuu……cepetannnnn…lama banget sie…tidur yaaa..” jeritku keras sambil menggedor pintu kamar mandi berkali-kali dengan keras.
“Berisikkk…Gangguin aja sihhh….salah sendiri bangun kesiangan…” balasnya keras dari dalam kamar mandi.
“Yeee..ini kan gara-gara kamu ngajak aku begadang maen game semalem…gara-gara kamu tauuuu”
“Enak aja salahku…Salah sendiri mau-maunya diajak maen”
Ihhhh!!! Nie anak beneran deh. Nyebelinnnnnn!!!
“Aduh…aduh…pagi-pagi ko’ udah ribut…” aku menoleh ke belakang, menghentikan aksiku yang akan menendang pintu kamar mandi. Sarang omma sudah berdiri di belakangku mengamati keributan yang terjadi. Yay!! Malaikatku penolongku sudah datang.
Dengan cepat kuhampiri sarang omma dan memasang jurus tampang memelas yang selalu berhasil meluluhkan hati sarang omma. “Ommaaaaaa…….kyu nie..lama banget” rajukku manja.
Sepertinya jurusku berhasil lagi, kulihat omma mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk pintunya pelan. “Kyuu..kasihan noonamu nie..cepet ya” kata sarang omma lembut.
Hanya dalam hitungan detik kyu sudah keluar kamar mandi dengan tampang kesal. “Curang banget sie..pake bantuan omma segala”
“Biarinnn…” kataku puas sambil tertawa penuh kemenangan dan bergegas masuk kamar mandi.
Hebat deh sarang omma..kyu yang nyebelinnya sejagat kayak gitu bisa tunduk patuh. Hahaha. Yah wajar sie, sarang omma kan ommanya kyu. Seneng banget bisa punya omma kayak sarang omma, udah baik, cantik, pinter masak lagi. Appa emang pinter milih istri. Hahaha.
Oh ya, kalian belum tau ya. Sarang omma adalah ibu tiriku. Sarang omma dan appa menikah 6 bulan lalu, jadi sejak enam bulan lalu aku mempunyai omma baru sekaligus dongsaeng baru. Ngomong-ngomong soal dongsaeng. Cowok nyebelin tadi itu dongsaeng tiriku, namanya cho kyuhyun. Kalau lagi kesal, aku selalu memanggilnya gamekyu karena dia itu tergila-gila berat sama yang namanya game. Aku jadi ingat awal pertemuanku dengannya.
[flashback]
“Nah eun hae..ini cho kyuhyun, dongsaeng tirimu. Anak sarang ahjumma” kata appa memperkenalkan cowok di hadapanku.
Aku menatap cowok di depanku yang masih sibuk dengan psp di tangannya. Apa benar dia hanya lebih muda dua tahun denganku. Kelihatannya dia masih seperti anak kecil, hanya anak kecil kan yang bermain dengan psp terus menerus. *dijitak istri-istrinya kyu*
“Kyu..jangan bermain game terus. Ayo sapa noonamu..” kata sarang ahjumma menepuk pundak cowok itu.
Cowok itu menoleh ke arahku dan mengulurkan tangannya. “Cho kyuhyun imnida”
“Eun hae imnida” kataku pelan sambil menjabat tangannya.
Selama acara perkenalan ini, dia terus sibuk dengan psp nya. Tidak memperdulikan kami yang sibuk mengobrol. Benar-benar anak yang aneh. Apa game begitu menariknya sampai-sampai dia tidak memeprdulikan sekitarnya.
Sepertinya dia sadar kalau kuperhatikan. Dihentikan kegiatannya dan memandang ke arahku. “Waeyo??” tanyanya.
“Ah~aniyo…tapi kamu bener 2 tahun dibawahku??” kataku akhirnya mengeluarkan pikiran yang sedari tadi mengganggu. Jujur sih, aku bener-bener gak yakin dia 2 tahun di bawahku.
“Memang kenapa?? Apa aku kelihatan terlalu muda untuk menjadi anak kuliahan??” katanya santai sambil tertawa.
“Yah~” aku hanya bisa diam, bingung akan menjawab apa. Masa’ iya aku mau bilang kalau emang gak cocok.
Didekatkan badannya ke arahku dan berbisik’ “Tenang aja.. aku gak suka ko’ sama yang lebih tua” dikedipkannya sebelah matanya dan kembali sibuk dengan psp nya.
MWOO!! Apa tuw maksudnya!! Emang siapa yang bakal suka sama anak kecil kayak gitu.
Dengan kesal kutendang kakinya dari bawah meja. Dia mengaduh keras sambil mengelus-elus kakinya yang sepertinya kutendang terlalu keras. Sarang omma dan appa segera menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah kami.
“Tidak apa-apa ko’ omma, appa…kyu cuma gak sengaja nendang kaki meja” jelasku kepada appa dan sarang omma sambil menepuk pundak kyu menunjukkan keadaan baik-baik saja. Kyu hanya diam dan memndangku kesal, tidak bisa berkata apa-apa.
Entah kenapa, aku yakin akan terjadi sesutu yang luar biasa.
[flashback end]
BRAKKK…
Suara tendangan di pintu membyarkan lamunanku.
“Cepettt…ntar kita telat tau” teriak suara menyebalkan yang sangat kukenal itu.
“Nee…berisikkk..” balasku kesal, segera menyelesaikan mandiku dan memakai pakaianku.
Dengan cepat aku keluar kamar mandi dan kembali ke kamarku. Aku sempat mengintip kamar kyu yang ternyata berantakan sekali. Aishh~ dasar anak ini benar-benar tidak pernah membersihkan kamarnya. Sudahlah lain kali biar kubersihkan saja.
Kamarku dan kamar kyu memang bersebelahan. Jadi aku tau pasti kalau dia itu sangat malas untuk membersihkan kamar. Tapi anehnya dia itu selalu melarangku untuk membersihkannya. Katanya sie biar lebih artsitik. Artistik apanya, sarang penyakit sih iya. Dasar anak itu memang aneh sekali.
Kuambil buku-buku kuliahku dan kumasukkan ke dalam tas. Bergegas menuju depan rumah sebelum si gamekyu itu mulai megomel lagi.
“Lama banget sie…” katanya kesal begitu melihatku turun.
Aku tidak memperdulikannya dan bergegas mendekati appa dan sarang omma. “Appa..omma..pergi dulu ya..” aku mencium sekilas pipi appa dan sarang omma, berlari menyusul kyu menuju halte bis.
————————
Aku dan kyu sampai tepat waktu, 5 menit sebelum kuliah pertama. Begitu sampai di kampus, kami langsung berpisah menuju kelas masing-masing. Kyu yang baru semester 1 untuk jam pertama ini kuliah di lantai 1, sedangkan aku yang sudah semester 5 kuliah di lantai 3.
Aku menatap gedung kampus yang menjulang tinggi, mnyesali kenapa kelas 1 ini harus di lantai 3. Dengan malas aku menuju lift, bersyukur ada lift di kampus ini. Tapiiii..ternyata sedang rusak. Aduhhhh~ sial banget sihhhh…
Akhirnya dengan perasaan kesal aku mulai menaiki tangga menuju lantai 3 dengan berlari, sesekali kulirik jam di tanganku yang mulai mendekati angka 7 tepat. Tanpa memperhatikan sekelilingku aku mengerahkan sisa-sisa tenagaku untuk mencapai lantai 3.
JDUKK…
Tanpa sadar aku menyenggol seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah.
“Ah~mianhae..jeongmal mianhae” kataku sambil membungkuk berkali-kali dan bergegas pergi begitu melihat jam tanganku yang menunjukkan angka 7 tepat.
Sempat kudengar orang itu memanggil, tapi tidak kuperhatikan. Lgipula belum tentu dia memanggilku, kenal aja gak. Aku semakin memacu lariku ketika melihat kelasku makin dekat. Kuliah pertama adalah mata kuliah dosen paling killer di kampus ini, bisa mati aku kalau sampai telat. Dijamin huruf  D akan terpampang di nilaiku. Haduhh~
Aku tiba sangat tepat waktu. Beberapa detik setelah aku duduk di kursi, choi seonsangnim tiba dengan wajah yang kesal. Siap menghukum para mahasiswa yang terlambat datang. Fiuhh!! Untung saja.
———————-
Aku menatap bingung ketika segerombolan gadis datang membawa berbagai macam hadiah dan menyerahkannya padaku.
“Onnie…tolong kasih ini ke kyu ya..”
“Enn..kasihin ke kyu ya..”
“Chingu..ini buat kyu ya…katanya dia suka makanan manis..”
“Onnie..titip ke kyu ya..”
“Chinguu..”
“Ennn..”
Aku tidak bisa lagi mendengar perkataan mereka karena terlalu banyak yang berbicara bersamaan. Yah~pokoknya intinya semua hadiah ini adalah titipan buat kyu. Tapi kenapa dititipin ke aku sihhhh???
Aku mendorong hadih-hadiah itu ke samping dan menatap mereka kesal. “Kenapa pada nitip ke aku sih?? Kasih sendiri aja deh” kataku sambil menarik seon woo menjauh dari tempat ini.
“Yahhh~tolong donggg…Kamu kan kakaknya..Aku sebagai ketua dari club kyuhyun minta tolong banget ennn..” kata hyo na padaku dengan tampang memohon diikuti dengan rengekan dari para gadis lainnya.
Aishh~aneh-aneh aja sih mereka. Pake buat club kyuhyun segala lagi, buat apa coba. Untuk mengagumi kemampuannya maen game, gak penting banget.
Aku menghela nafas kesal dan menganggukan kepala. “Ne…ottokhae?? Aku kan naik bis”
Hyo na menatapku dengan pandangan berbinar. “Ntar aku anterin deh en…gomawooo chinguku tercinta” katanya penuh semangat sambil memelukku.
Aku hanya tersenyum dan segera meninggalkan tempat itu dengan seon woo di sebelahlku. Hyo na sibuk menginstruksikan para gadis lainnya untuk membawa semua hadiah itu ke dalam mobilnya.
“Wah~kyu terkenal banget ya” kata seon woo di sebelahku sambil tertawa kecil ketika kami berjalan menjauh dari tempat itu.
“Heran deh..anak kayak gitu ko’ bisa terkenal banget. Pada gak tau aslinya sih.”
“Yah~tapi kyu memang ganteng ko’ en, suaranya juga bagus, wajar sih kalau mereka sampai ngefans banget. Lagian kenapa sih kayaknya kamu sebel banget setiap cewek-cewek itu mendekati kyu. Jangan-jangan kamu cemburu ya. Hahaha” seon woo menatapku penuh selidik, sebuah senyum muncul di bibirnya.
“MWO!! Cemburu!! Gak banget deh cemburu sama tuw anak. Kalau aku sampai suka sama dia berarti aku gak normal tau. Dia itu makhluk paling menyebalkan di dunia iniiii!!!” Aku bergidik pelan membayangkan kejadian yang sangat tidak mungkin itu. Kalaupun di dunia ini hanya tinggal kyu, aku tidak akan mau suka padanya.
Seon woo tertawa keras mendengar perkataanku. Selain aku, dia yang paling tau tentang kyu karena sering main ke rumahku. Dia adalah sahabat baikku sejak kecil. Kadang aku berpikir, kenapa gadis yang anggun seperti seon woo bisa berteman denganku yang sangat tomboi ini. Gomawo to seon woo..hehehe.
Ketika aku sedang ngobrol dengan seon woo, tiba-tiba datang makhluk menyebalkan yang langsung menggangguku dengan rengekannya.“Ennnnn…..pinjem uang dong”
“En,En…panggil aku noona kyuuu..” dasar anak ini, gak pernah mau memanggilku noona.       “Emangnya uangmu kemana sih?? Jadi asap lagi” tanyaku dengan kesal mengingat ini sudah ke-6 kalinya dia meminjam uangku. Bukannya aku pelit, tapi sebel juga kan kalau nie anak tiap hari pinjem uang. Mana alasannya karena uangnya tiba-tiba menghilang jadi asap lagi. Gak mutu banget deh.
“Gak mau ah, lagian kita kan cuma beda 2 tahun. Habisss..buat beli kaset game” jawabnya dengan tampang polos sambil cengar-cengir.
Aishh!! Ini anakkkkkk……
Dengan kesal kubuka tas dan mencari dompetku. Kyu menatapku penuh harap, sedangkan seon woo memperhatikan kami sambil tertawa kecil.
“Eh~dompetku mana ya??” kataku dengan panik menyadari dompetku tidak ada di tas. Seon woo mendekatiku dan membantuku mencari di dalam tas.
“Waeyo?? Dompetmu ilang. Gak ati-ati sie. Makanya kalau nyimpen barang tuw ati-ati..” cerocos kyu. Matanya memandangku yang masih sibuk mengobrak-abrik isi tasku.
Ihh!! Nie anak bukannya bantuin malah nasehatin lagi. Jangan cuma ngliatin donggg!!
Baru saja akan kubalas pekataannya, terdengar suara seseorang berbicara. “Annyeong..”
Aku menoleh ke asal suara yang memanggilku. Seorang cowok tampan berdiri di hadapanku dengan senyum yang mempesona. “Ne..ada apa ya??”
“Ini dompetmu??” Kata cowok itu mengeluarkan sebuah dompet berwarna putih yang sangat kukenal.
“Ahhh~~ne..ne..kamu yang menemukannya..gomawo..” aku menatap cowok itu dengan penuh terimakasih. Fiuhh!! Hidupku selama sebulan bergantung di dompet ini.
“Sama-sama…Lee donghae imnida” kata cowok itu sambil tersenyum, diulurkan tangannya padaku.
Baru saja akan kusambut tangan itu, sebuah tangan lain sudah menjabat tangan itu. “Cho kyuhyun imnida” kyu sudah menjabat tangan itu, menghilangkan kesempatanku untuk berkenalan dengan cowok tampan ini. Sempat kulihat senyum jail di bibirnya ketika berbicara. “Mianhae..noonaku ini memang sangat merepotkan. Dia itu memang tukang menghilangkan barang. Kemarin saja dia menghilangkan…” cerocos kyu penuh semangat, tidak memperdulikanku yang memandangnya dengan pandangan membunuh.
Cowok tampan itu hanya memandang kyu dengan bingung. Dipalingkan pandangannya ke arahku yang menunduk berkali-kali mengucapkan “mianhae” tanpa suara di belakang kyu. Aku bersumpah akan membunuh kyu setelah ini. Dasar kyuuuuu!!!!
Sepertinya cowok itu mengerti maksudku karena dia tersenyum ke arahku sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kami. Aku membalikkan badan ke arah kyu yang memandangku dengan tampang sok polosnya.
“Waeyo??” tanyanya santai. “Cowok itu mengajakku berkenalan. Memang gak boleh. Oh ya, menurutku dia terlalu ganteng buatmu”
“Kyuuuuu…………..” jeritku keras ke arahnya ketika melihatnya berlari pergi dari hadapanku sambil tertawa.
Seon woo menatap kami berdua dan tertawa terbahak-bahak. Melihatku dan kyu berantem adalah salah satu hal yang disukainya.
_____ ^ ^ ______
Aku demam tinggi. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun karena kepalaku pusing sekali jika aku bergerak sedikit saja. Alhasil seharian ini aku harus di tempat tidur, tidak boleh pergi kemana-mana. Untung ini hari minggu, jadi aku tidak perlu memikirkan kuliah yang kulewatkan. Tapi aku bosannn sekali. Seharusnya hari ini kami sekeluarga pergi berlibur ke luar kota, tapi karena aku sedang sakit jadi aku tidak ikut. Tadinya appa dan sarang omma akan membatalkan rencana itu, tapi kularang karena aku yakin kyu akan kecewa. Dia yang paling bersemangat untuk pergi, aku tidak tega membuatnya kecewa. Meskipun dia itu menyebalkannnnn sekali, tapi dia tetap dongsaengku kan.
Akhirnya appa, sarang omma, dan kyu pergi keluar kota tanpaku. Appa dan sarang omma memelukku erat dan memberikan nasehat yang sangatttt panjang agar aku berhati-hati. Sedangkan kyu seperti biasa mengejekku karena tidak bisa menjaga kesehatan dan pergi tanpa memberikanku kata-kata penghiburan sedikitpun. Dasar kyu menyebalkan, tidak bisakah dia berlaku seperti dongsaeng. Nyesel deh udah peduli padanya.
Aku langsung tertidur begitu mereka pergi. Aku yakin setelah tidur pasti keadaanku lebih baik. Setidaknya kuharap pusingnya bisa berkurang sedikit.
——————–
Aku membuka mataku perlahan. Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kepalaku sudah lebih ringan dibanding tadi, setidaknya jika aku bergerak tidak terlalu pusing lagi.
Aku merenggangkan badanku perlahan dan baru menyadari rasa dingin yang berasal dari dahiku. Sebuah handuk basah tertempel di dahiku dan kudapati sebuah termometer di sebelahku. Aku menatap bingung barang-barang itu, memang ada siapa di rumah. Apa seon woo datang ke rumah?? Tapi bagaimana dia masuk??
Aku tidak butuh lma untuk menemukan jawaban dari semua itu. Kyu datang ke kamarku membawa nampan berisi mangkuk dan sebuah gelas. Pakaiannya penuh dengan bekas masakan di mana-mana dan wajahnya berantakan sekali. Kalau ini sedang adalam keadaan biasa mungkin aku sudah tertawa melihatnya, tapi aku saat ini benar-benar bingung melihatnya. Kenapa dia di rumah??
Kyu menaruh nampan itu di meja sebelahku dan duduk di sebelahku. “Gwenchana??” tanyanya lembut. Aku kaget mendengar nada suaranya. Belum pernah dia berbicara selembut itu padaku.
“Kenapa kamu di rumah??” hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Aku masih bingung melihatnya ada di rumah dan dengan nada suaranya yang lembut.
“Waeyo?? Kamu tidak suka aku di rumah” katanya pelan. Sempat kulihat wajahnya yang kecewa mendengar kata-kataku. Kecewa?? Mungkin aku salah lihat.
“Ah~ani..aniyo..hanya kaget. Bukannya kamu sangat ingin pergi” tanyaku ke arahnya, mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di pikiranku.
“Ne…tapi kamu tau sendiri, aku ini kan orang yang baik hati dan tidak sombong jadi kuputuskan untuk memberi kesempatan pada jung soo appa dan omma untuk berbulan madu kedua kalinya. Aku baik hati kan” jelasnya padaku sambil tertawa dengan gayanya yang biasa.
Aku tertawa melihatnya seperti itu. Dasar kyu, ada-ada saja idenya. Jadi ternyata dia di rumah bukan karena khawatir padaku, tapi karena ingin memberi kesempatan pada appa dan sarang omma. Hahh~kupikir dia khawatir padaku.
Eitss~memang kenapa kalau seperti itu. Bukannya bagus, itu berarti kan dia peduli pada appa dan sarang omma. Lalu kenapa aku harus kecewa mendengar alasannya. Aishh~sepertinya pikiranku mulai melantur.
“Ya~eun hae!!”
“Eh~waeyo??” kataku bingung memandang sekeliling. Tanpa sadar aku melamun dan tidak memperhatikan kyu terus berbicara daritadi.
“Aishh~kamu ini..nih” diberikannya mangkuk berisi bubur yang masih panas ke arahku.
Aku menatapnya ragu. Kyu tertawa pelan dan memastikan bubur buatannya layak dimakan. “Hemm~enak ko’..tenang aja, tadi udah kucoba.” katanya sambil menyedok satu bubur ke mulutku. “Tapi gak tau juga sih kalau yang kamu makan..Hahaha.” kyu tertawa keras ketika melihatku yang tersedak mendengar perkataannya.
Aku melotot ke arahnya, menolak makan lebih lanjut. Jangan sampai aku mati hanya karena bubur. Gak elit banget cara matinya.
“Bercanda…gitu aja percaya” katanya jail sambil mengacak rambutku pelan.
DEG!! Kenapa jantungku berdetak kencang hanya karena kyu menyentuhku?? Kenapa ini?? Jantungku semakin berdetak lebih kencang ketika tangan kyu memegang dahiku pelan, memastikan panasku sudah turun. What happen to me!!!
“Gwenchana??” tanya kyu lembut menyadari wajahku yang memerah. Matanya menatapku tajam membuatku semakin salah tingkah.
Aishhh~Apa yang harus kulakukan sekarang?? Jangan sampai kyu sadar. Ottokhaeeee????
Drrt…drrrt…drrt…
Getaran handphone mengalihkan perhatian kami. Fiuhh!!benar-benar saat yang tepat.
Tanpa melihat no yang tertera, aku segera mengangkatnya, “Yoboseyo??”
“Hae!!!!” jeritku senang mendengar suara si penelepon. Sejak kejadian penemuan dompetku 2 minggu yang lalu, aku jadi sangat dekat dengannya. Begitu aku bisa bertemu dengannya tanpa pengganggu*maksudnya kyu* kami bertukar no dan sering bertemu meskipun hanya sekedar mengobrol. Dia orang yang sangat menyenangkan, tapi buatku dia tidak lebih dari sekedar teman.
Belum sempat aku mengobrol dengan hae, kyu sudah mengambil handphoneku dan mematikannya. Apa-apaan dia!!!
“Yaa~kenapa dimatikan??” bentakku kesal ke arahnya berusaha merebut handphoneku dari tangannya.
“Kamu sakit. Lebih baik istirahat. Kalau kamu lebih parah, aku yang repot tau” balasnya dengan dingin. Kyu keluar kamar dan menutup pintu dengan keras.
Aku menatap kepergian kyu dengan bingung. Baru saja dia begitu lembut padaku, kenapa sekarang dia jadi dingin padaku?? Sebenarnya kenapa dia??
——————-
Malam ini aku tinggal berdua dengan kyu. Tapi aku merasa kesepian sekali. Kyu tidak berbicara denganku sejak tadi sore. Wajahnya juga menjadi dingin setiap menatapku. Memangnya aku melakukan kesalahan apa sih??
Aku menyingkirkan selimutku dan turun menuju dapur. Kulihat lampu kamar kyu sudah mati, mungkin dia sudah tidur. Tapi ini kan baru jam 10, kyu tidak mungkin sudah tidur jam segini.
Dengan perlahan kubuka pintu kamar kyu dan mengintip ke dalamnya. Kyu tidak ada di kamar. Kasurnya kosong dan jaketnya sudah hilang dari tempat biasa dia taruh.
Apa kyu pergi keluar?? Kenapa dia tidak bilang padaku??
Aku menyalakan lampu kamar dan memandang kamar kyu yang masih sama berantakannya seperti saat terakhir melihatnya. Mataku tertancap pada amplop warna pink yang ada di atas mejanya. Kuambil amplop itu dan membuka surat di dalamnya.
“Oppa…gwenchana?? Jeongmal mianhae oppa karena tidak seharusnya aku mengirimi oppa surat lagi. Tapi aku rindu sekali pada oppa. Apa oppa masih marah padaku karena tiba-tiba pergi tanpa pamit?? Aku masih mencintaimu oppa. Jika oppa juga memiliki perasaan yang sama kumohon datanglah malam ini ke joyu park. Aku akan menunggu sampai oppa datang. Saranghae oppa
Rira”
Sebuah foto terjatuh dari atas meja. Dalam foto itu kyu tampak mencium pipi seorang gadis yang sangat cantik. Wajah mereka sangat bahagia. Kulihat tulisan di belakang foto itu “my first love. Rira”
Kuambil foto itu dan kuletakkan di tempatnya semula, begitu juga dengan surat dan amplop pink itu. Aku segera mematikan lampu kamar kyu dan menutup pintunya. Bergegas kembali ke kamar.
Aku duduk termangu di atas kasur. Bayangan surat dan foto itu terus muncul di pikiranku. Apa sekarang kyu pergi ke tempat itu?? Tempat cinta pertamanya menunggunya. Apa itu berarti kyu akan kembali dengannya??
Tanpa sadar air mataku mengalir. Kupegang dadaku yang entah kenapa terasa sakit sekali membayangkan itu semua. Membayangkan kyu tersenyum, tertawa, dan berjalan bersama gadis lain tidak lagi denganku membuat air mataku turun semakin deras.
———————-
Aku menatap bayanganku di cermin kamarku, mataku terlihat bengkak. Bekas-bekas air mata masih terlihat di mataku. Aku menangis semalaman dan tanpa sadar tertidur hingga pagi tiba. Kupegang dadaku yang masih terasa sakit bahkan setelah aku menumpahkan kesedihanku semalaman.
Sedih?? Apa mengetahui kyu akan memiliki cinta pertamanya kembali membuatku sedih?? Kenapa aku harus sedih?? Bukankah seharusnya aku senang??
Tok…Tok..Tok..
Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu ketika terdengar suara seseorang yang membuatku berhenti.
“Ennn…kamu masih hidup kan?? Kita udah mau telat nih. Cepetann!!!” teriak kyu dari luar kamarku dengan keras.
Aku tertegun mendengar suara kyu yang sudah kembali penuh semangat, tidak seperti kemarin yang terdengar dingin. Aku tidak bisa keluar seperti ini. Dia pasti akan bertanya kenapa aku menangis. Ottokhae??
Aku menghirup nafas dalam dan berusaha menguatkan hatiku. “Aku tidak masuk hari ini.” kataku pelan ke arah pintu.
“Waeyo?? Apa kamu masih sakit?? Suaramu terdengar serak.” tanyanya dengan nada khawatir dan semakin mengetuk pintu kamarku lebih keras. “Buka en!!!”
Aku hampir saja membuka pintu jika saja bayangan wajahku yang terpantul di cermin tidak menggangguku. “Shireo!! Aku baik-baik saja. Aku akan istirahat. Pergilah kuliah!!” teriakku keras dan kembali ke kasur.
Kuambil handphoneku dan mengirim pesan singkat pada seon woo.
[to : seon woo]
Aku tidak tau harus bagaimana seon woo. Tolong aku
Kututup badanku dengan selimut dan mulai menangis lagi. Ternyata mendengar suaranya membuatku lebih buruk.
———————-
Drrt…Drrtt..Drrt…
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan melihat jam dindingku yang sudah menunjukkan pukul 10. Kulirik handphoneku yang memajang nama seon woo sebagai si penelepon dan mengangkatnya.
“Yaaa~eun hae kenapa baru kamu angkat. Kamu tau aku sudah di luar dari 30 menit yang lalu!!!” teriaknya keras bahkan sebelum aku sempat mengatakan apapun.
“Jinjja?? Mianhae tadi aku tidur. Kubukakan sekarang” kututup handphoneku dan segera berlari menuju depan rumah sebelum seon woo mulai mengomel. Sahabatku itu paling benci menunggu, jika bukan karena aku pasti dia sudah pergi dari tadi. Benar-benar sahabat yang baik deh. Hehehe
“Aishh~ lama sekali…OMONA~apa yang terjadi padamu” Matanya menatapku khawatir dan segera menarikku masuk.
“Ceritakan padaku..” katanya tegas begitu kami di ruang tamu.
Kuambil nafas dalam dan mulai menceritakan perasaan yang asing ini. Mata seon woo tidak pernah lepas dariku. Sesekali dia menganggukan kepalanya seakan dia sangat mengerti apa yang kurasakan.
“Kamu suka kyu??” tanyanya begitu aku selesai bercerita. Wajahnya serius, tidak ada tanda-tanda bercanda di sana.
Aku menatapnya ragu, akhirnya menganggukkan kepalaku pelan. Sebenarnya aku tidak yakin tentang perasaanku sendiri, tapi melihat keadaanku yang kacau hanya karena mengetahui kyu akan kembali pada cinta pertamanya meyakinkan perasaanku.
Aku menatap seon woo panik ketika kusadari arti pengakuanku tadi. “Ottokhae seon woo?? Aku tidak bisa menyukainya. Dia dongsaengku!!!” jeritku frustasi, menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Eun hae!!!” dipeluknya tubuhku, berusaha menenangkanku. “Ne..tapi dia kan dongsaeng tirimu. Kalian gak ada hubungan darah. Kalian bisa saja..”
Aku menegakkan badanku dan menatap seon woo penuh tekad, memotong kata-katanya. “Aku akan menghapusnya. Aku gak mau menyakiti appa dan sarang omma. Aku akan menjadi noona yang baik untuknya”
“Kamu yakin??” seon woo menatapku ragu, memastikan pernyataanku.
“Ne…aku akan menjadi noona yang baik untuknya”
________ ^ ^ _________
“Eun Hae??” seseorang menepuk pundakku pelan dan memaksaku menghentikan lamunanku.
“Hae!!!” aku menoleh dan tersenyum senang ketika mendapati seseorang yang sangat kukenal berdiri dihadapanku.
“Sendirian??”
“Ne…seon woo sedang mengurus sesuatu di club”
“Boleh aku duduk di sini??”
“Silahkan. Bagaimana kabar kuliahmu di amerika?? Lancar??”
“Lancar sekali. Meskipun baru 1 bulan, aku sudah betah di sana. Kamu sendiri bagaimana?? Kabarnya mendapat beasiswa untuk mengadakan penelitian di amerika. Kapan akan pergi??”
“Belum tau hae..Masih dipikirkan akan diambil atau tidak. Oh ya, kabarnya Prof. Joon akan mengambil S3 di amerika….”
Tanpa sadar aku dan hae larut dalam pembicaraan yang sudah lama tidak kami lakukan.
Sudah dua bulan berlalu sejak aku menyadari perasaanku pada kyu. Untuk menghabiskan waktu sekaligus mengalihkan pikiran, aku dan seon woo mengikuti club sains. Aku juga lebih sering menghabiskan waktu dengan hae sebelum akhirnya sebulan yang lalu dia pergi ke amerika untuk melanjutkan kuliah di amerika, tapi meskipun begitu kami tetap saling kontak. Buatku dia seperti sosok kakak yang tidak kumiliki.
Sebisa mungkin aku menjauh dari rumah tanpa appa dan sarang omma sadari. Aku sudah jarang bertemu dengan kyu karena intensitasku di rumah yang sangat jarang. Entah dia sadar atau tidak bahwa aku menjauhinya, aku tidak memperdulikannya. Aku takut jika bertemu dengannya air mataku akan tumpah lagi, apalagi kabarnya dia sudah berpacaran dengan seseorang. Ketika mendengar kabar itu pertama kali, aku langsung menginap di rumah seon woo dan menangis semalaman. Walau masih terasa, tapi setidaknya sekarang tidak seberat dulu.
“Bagaimana kalau kita ke taman bermain besok?? Untuk merayakan pertemuan kita” kata hae tiba-tiba padaku.
“Taman bermain?? Ne…aku mau. Sudah lama aku tidak ke sana” jawabku bersemangat. Sudah lama sekali aku tidak ke taman bermain, apalagi sepertinya aku benar-benar butuh liburan.
“Oke..kalau begitu akan ku sms lagi nanti malam. Aku duluan ya en, aku harus bertemu teman sekarang” pamitnya padaku dan beranjak pergi.
Aku menatap hae yang pergi menjauh dan beranjak pergi menyusul seon woo, tidak menyadari sepasang mata yang menatapku tajam sedari tadi.
———————–
Aku menatap pakaian-pakaian yang ada di lemari. Kuambil semua pakaian dan kuhamparkan di atas kasur.
Apa yang harus kupakai besok?? Aku tidak punya pakaian bagus, yang kupunyai hanyalah pakaian kasual sehari-hari. Mana bisa aku menggunakan pakaian seperti ini untuk pergi dengan hae.
Aku mengambil pakaian satu-persatu dan mencocokannya di depan cermin. Kegiatanku berhenti ketika mendengar suara tawa tertahan dari arah pintu. Kyu berdiri di pintu kamarku sambil menahan tawa melihatku.
“Waeyo??” tanyaku kesal melihatnya yang menahan tawa.
“Aniyo…hanya merasa geli melihatmu seperti ini. Hahaha.” katanya sambil tertawa keras. “Sudahlah, kamu mau pakai pakaian seperti apapun tidak akan terlihat berbeda.” Kyu melangkah masuk dan merebahkan tubuhnya di kasur.
“Udah pergi sana. Aku gak punya waktu buat berantem.” kataku ketus, mengambil pakaian yang berbeda dan mencocokkanya di depan cermin.
“Lagipula kamu lebih cantik jika menjadi diri sendiri” gumam kyu pelan.
“Apa??” aku tertegun mendengar kata-katanya. Tidak yakin dia mengatakannya.
“Ani…Aniyo..” kilahnya. Yah~mungkin itu hanya khayalanku.
Kyu bangkit dari posisi tidurnya dan menatapku tajam. “Apa kamu serius dengannya??” tanyanya dengan nada serius.
“Eh~maksudmu??” aku menoleh ke arahnya, menatapnya bingung.
Kyu berdiri dan berjalan ke arahku. “Apa kamu suka padanya??”
“Ahh~pertanyaan apa itu. Sudahlah jika kamu tidak mau keluar biar aku yang keluar”
Jantungku sudah berdetak keras sedari tadi, jika aku tidak cepat menjauh darinya aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi padaku. Dengan cepat aku membalikkan badan dan melangkah pergi ketika tangannya menarikku dan memutar badanku, membuatku menatap wajahnya.
Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku. Matanya menatapku tajam dengan serius. “Kenapa kamu menjauhiku??” tangannya menarikku semakin dekat dengannya. “JAWAB AKU EUN HAE!!!” teriaknya ketika melihatku diam dan berusaha lepas darinya.
“Kyuuu sakittt..”
Aku sudah tidak tahan lagi. Tanpa sadar air mata menetes dari sudut mataku. Mana bisa aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya, mencintai dongsaengku sendiri. Aku tidak ingin dia membenciku sekaligus menyakiti diriku sendiri karena terlalu berharap. Apa yang bisa kuharapkan. Dia sudah memiliki pacar yang cantik dan aku yakin baginya aku hanya seorang kakak.
Kyu melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku. Wajahnya tampak pucat melihatku yang menangis. “Mianhae..jeongmal mianhae. Aku tidak bermaksud..”
“Kumohon keluarlah dari kamarku.” Kataku pelan ke arahnya sambil menundukkan kepalaku. Aku tidak mau dia melihatku dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
Begitu pintu kamarku tertutup, aku segera menjatuhkan tubuhku di kasur dan menangis. Melepaskan semua beban yang tidak kuat lagi kutanggung.
———————-
Kyu sudah tidak ada di rumah begitu aku turun ke dapur pagi ini. Sarang omma bilang dia pergi pagi-pagi sekali, kyu bilang dia ada janji dengan temannya. Aku bersyukur dia tidak ada di rumah hari ini. Setelah kejadian tadi malam, aku tidak yakin dapat mengendalikan perasaanku jika menatapnya. Tapi aku benar-benar shock tadi malam, belum pernah aku melihatnya semarah itu. Belum pernah dia berteriak padaku sekeras itu. Ada apa dengannya?? Apa dia cemburu melihatku dekat dengan hae?? Aishh~ apa yang kupikirkan. Mana mungkin dia cemburu.
Mataku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9.30. Ingatanku melayang ke sms yang kuterima dari hae semalam. Hyahh~aku lupa ada janji dengan hae jam 10. Gara-gara kelelahan menangis aku bangun lebih siang hari ini. Ottokhae??
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan mandi secepat kilat. Kuambil sebuah pakaian dan jeans, mengenakannya terburu-buru. Kuputuskan untuk menjadi diriku apa adanya. Menjadi diri sendiri memang lebih menyenangkan.
———————-
Aku menatap berbagai macam permainan di sekitarku dengan semangat. Aku sudah tidak sabar mencoba semua permainan ini. Tidak akan kusia-siakan kesempatan ini.
“Hae kajja!!” teriakku bersemangat sambil menariknya menuju permainan pertma.
Hae tertawa melihatku sangat bersemangat dan mengikutiku yang berlari pergi mendekati permainan pertama.
BRUKK..
“Eun hae!!” teriak hae ketika melihatku terjatuh. Aku mengelus tanganku yang menjadi tumpuan jatuhku dan menatap orang yang kutabrak. KYU!!!!
“Oppa..gwenchana??” tanya seorang gadis yang wajahnya persis sama dengan gadis di foto yang waktu itu kulihat dengan khawatir.
“Ne..Gwenchana” jawab kyu sambil tersenyum pada gadis itu. “Noona…kamu juga di sini”
Aku diam mendengar pertanyaan kyu. Kata yang asing masuk di telingaku. Noona?? Sejak kapan dia memanggilku noona?? Dan..kenapa dia bersikap biasa saja seakan tidak terjadi sesuatu. Ternyata memang aku yang bodoh. Berharap alasan dia marah padaku karena aku dekat dengan hae. Benar-benar seperti orang bodoh.
“Eun hae…gwenchana??” tanya hae dengan khawatir membantuku berdiri.
“Ne…gwenchana” jawabku pelan sambil tersenyum menenangkan pada hae.
“Ah~kyu..kamu juga di sini” hae menatap kyu yang sudah berdiri di depanku dibantu gadis itu.
“Ne hyung..oh ya, taeyeon perkenalkan ini noonaku. Noona ini taeyeon.” terang kyu memperkenalkan kami berdua. Aku menjabat tangan taeyeon dan tersenyum sekedarnya.
Aku harus pergi sekarang juga. Menjauh dari mereka berdua.
“Hae..kita ke sana yuk. Tidak enak mengganggu mereka. Kajja!!” kataku sambil menarik tangan hae menjauh dari tempat itu.
“Kenapa kita tidak pergi bersama saja hyung?? Lebih enak kalau rame-rame kan” tawar kyu pada hae. Aku menatap hae penuh harap. Berharap hae akan menolaknya.
Harapanku hilang begitu hae menganggukkan kepalanya. “Ide yang bagus..tidak apa-apa kan en” hae menatapku meminta persetujuan.
Meskipun dengan enggan akhirnya kuanggukkan kepalaku.
Benar-benar seperti kencan ganda. Tapi bedanya aku dan hae tidak berpacaran. Aku terpaksa menahan dadaku yang terus menerus tersayat setiap melihat kyu dengan rira bersikap mesra. Aku tidak bisa menikmati permainan yang ada di taman bermain sedikitpun. Kalau seperti ini bukan liburan namanya, tapi menyiksa diri.
Aku melangkah menuju kursi yang berada paling pojok dan duduk di sana. Menutup wajahku dengan kedua tangan, berusaha menyingkirkan penat di pikiranku. Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Aku menoleh dan mendpati hae membawa dua minuman dingin.
“Gwenchana??” tanyanya melihatku yang tampak lelah.
“Ne..gwenchana. Hanya tidak enak badan” jawabku sambil tersenyum.
“Kamu bisa meminjam bahuku” aku menatapnya bingung mendengar perkataannya. “Jangan dipendam sendiri. Tempat ini sepi, tidak akan ada yang melihat”
Mendengar perkataan hae yang penuh perhatian, tanpa sadar air mataku mengalir. Dengan lembut dipeluknya tubuhku dan dibiarkannya aku menangis. Sempat kudengar lirih suaranya, “Mianhae…jeongmal mianhae eun hae..seharusnya aku tau ini akan menyakitimu”
Seseorang menatap kami dari kejauhan. Wajahnya termangu dan tampak shock. Dengan lunglai dibalikan tubuhnya dan melangkah pergi menjauh.
_________ ^ ^ __________
“Aku akan pergi ke amerika” kataku mantap di depan appa dan sarang omma. Appa dan sarang omma berpandangan dan menganggukkan kepala bersamaan.
“Appa dan omma mengijinkan??” tanyaku heran melihat mereka langsung setuju dengan keputusanku.
“Ne..sebenarnya appa dan omma sudah tau lama, tapi sengaja menunggumu untuk mengatakannya secara langsung pada kami. Appa tidak ingin kamu kehilangan kesempatan untuk berkembang, mendapat pengalaman di luar sana. Appa yakin kamu sudah cukup dewasa untuk membuat keputusanmu sendiri” jelas appa padaku sambil tersenyum, begitu pula sarang omma. Aku langsung memeluk mereka dan mengucapkan terimakasih berkali-kali. Beruntung sekali aku memiliki orangtua yang sangat peduli padaku. Aku tidak akan mengecewakan mereka. Aku berjanji!!
“Appa,omma…bisakah aku minta tolong..Tolong jangan beritau kyu tentang keprgianku sebelum aku benar-benar berangkat ke amerika.” Appa dan sarang omma menatapku dengan bingung, heran dengan permintaanku. “Aku sudah menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri appa, jadi aku tidak ingin sebelum aku pergi melihat wajahnya yang sedih. Aku mohon” aku menatap appa dan sarang omma penuh harap.
“Ne..appa dan omma janji. Kapan kamu akan pergi??”
“Kamsahamnida appa, omma..Besok lusa jam 10 pagi”
“Baiklah. Kalau begitu lebih baik kamu mempersiapkan barang yang akan kamu bawa dari sekarang.” Kata appa padaku. Sarang omma mendekatiku dan menarikku ke kamar, membantuku mempersiapkan segala sesuatu.
————————-
Ini malam terakhirku di rumah. Malam terakhirku untuk bertemu dengan kyu. Aku tidak boleh melewatkannya. Setidaknya sebelum aku pergi, aku ingin hubunganku dengannya sudah kembali seperti sebelum aku menyadari perasaanku ini.
Kuambil nafas dalam dan mengetuk pintu kamarnya perlahan.
“Masukk..” teriak kyu dari dalam kamar. “Noonaaa…” Wajahnya tampak kaget begitu melihatku yang datang.
Dengan terburu-buru dia membereskan barang-barang yang berserakan di kamarnya. Menyembunyikan beberapa barang di bawah bantal.
“Apaan tuh??” dengan cepat kuraih sebuah kotak yang tidak sempat disembunyikannya dan membukanya. Sebuah cincin perak yang sederhana ada di dalam kotak itu. “Wahh~cantik sekali”
“Untuk siapa ini kyu??” tanyaku jail ketika melihat wajahnya yang memerah.
“Eh~itu…untuk..”
Aku tertawa melihatnya yang begitu gugup. “Ne…aku tau. Pasti untuk taeyeon kan. Wah ternyata kamu ini romantis juga ya” Meskipun kelihatannya baik-baik saja, sebenarnya hatiku sudah tidak karuan ketika mengatakan itu semua. Tetapi aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk bersama dengannya terakhil kalinya. Aku ingin menjadi noona yang baik untuknya.
Kututup kotak itu dan berniat mengembalikannya ketika dia menangkap pergelangan tanganku dan berkata pelan, “Cincin ini untuk seseorang yang sangat berarti untukku. Seseorang yang selalu membuatku kacau hanya karena memikirkannya pergi dariku. Membuatku senang hanya karena melihatnya. Membuatku marah karena tidak bisa memilikinya. Membuatku cemburu karena melihatnya dengan orang lain. Dia yang akan selalu memiliki tempat istimewa di hatiku”
Diambilnya kotak itu dari tanganku dan memandangnya penuh tekad. “Aku akan memberikannya suatu hari nanti. Hari dimana aku yakin dia hanya akan memandangku dan bersedia menjadi milikku. Jika saat itu tiba, tidak perduli apapun yang terjadi akan kukejar dia bahkan sampai ujung dunia sekalipun.” Matanya menerawang, membayangkan seseorang yang sangat dicintainya.
Aku menggingit bibirku pelan, berusaha menahan rasa sakit yang menghantam dadaku. Menahan tangisku yang siap pecah saat itu juga. Kuambil nafas dalam perlahan dan tersenyum kepadanya. “Kudoakan semoga kamu bisa mendpatkan gadis itu, tapi jangan lupa undang noonamu ini jika kalian menikah duluan” candaku sambil tertawa. Kyu hanya menatapku dan tersenyum.
Pandanganku tertuju pada sebuah gelang berwarna biru yang berhiaskan lumba-lumba perak di sekitarnya berada di atas meja. Hwahh~cantik sekali.
Sepertinya kyu menyadari mataku yang terus menatap gelang itu. Diambilnya gelang itu dan diserahkannya padaku. “Ini buat noona”
“Ah~ani..aniyo.” tolakku berusaha mengembalikan gelang itu ke meja. Dengan cepat kyu memegang tanganku, menahanku untuk mengembalikannya. “Noona suka lumba-lumba kan. Ini buat noona saja, lagipula aku tidak begitu suka lumba-lumba” katanya sambil tersenyum.
Diambilnya gelang itu dari tanganku dan dipasangkan di pergelangan tanganku. “Tuh kan..Lebih cocok kalau dipakai noona.”
“Gomawo kyu..” kataku pelan, menatap gelang pemberiannya yang kini ada di pergelangan tanganku. Kenapa dia bisa tau aku suka lumba-lumba??
“Oh ya, ada apa noona ke kamarku??”
“Tidak apa-apa, hanya ingin mengobrol. Tidak ada larangan seorang kakak untuk mengobrol dengan dongsaengnya kan”
Malam itu kulewati dengan mengobrol dan bermain game dengan kyu. Membuat sebanyak mungkin kenangan sebelum aku pergi.
———————-
Aku menatap appa, sarang omma, dan seon woo bergantian. Tanpa sadar air mataku mengalir, menyadari aku akan berpisah dengan mereka. Appa dan seon woo memelukku bergantian dan mengucapkan kata-kata perpisahan disertai beberapa nasehat yang panjang.
Terakhir, sarang omma memelukku erat dan berbisik di telingaku, “Apapun yang kamu pilih, appa dan omma akan mendukungmu. Jangan sakiti dirimu sendiri hanya karena memikirkan kami.” Omma melepas pelukannya dan mencium pipiku pelan. Aku hanya kebingungan mendengar perkataan sarang omma. Apa maskdunya??
Ketika jadwal penerbangan diumumkan, aku dan hae segera pergi menuju pesawat. Aku memang pergi dengan hae karena tujuan kami yang sama. Universitas tempatku melakukan penelitian kebetulan sama dengan universitas tempat hae kuliah, jadi kuputuskan untuk meminta bantuannya selama di amerika.
Beberapa kali aku menengok ke belakang. Berharap kyu datang dan mencegahku pergi. Tapi aku tau itu sia-sia, toh dia tidak tau aku akan pergi. Kalaupun tau mungkin dia juga tidak akan peduli.
“Mencari kyu??” tanya hae padaku ketika melihatku menengok ke belakang untuk kesekian kalinya.
“Ani..aniyo..” jawabku dengan wajah memerah. Darimana hae tau. Pasti gara-gara seon woo. Awas dia nanti!!
“Tidak apa-apa. Aku sudah bisa menebaknya dari tingkah lakumu selama ini. Aku tau ini terlalu cepat, tapi aku bersedia menunggumu. Aku bersedia menunggumu melupakannya. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi temanmu yang terbaik” hae menatapku dengan penuh kelembutan. Sebuah senyum menghiasi wajahnya.
“Gomawo hae…” kataku pelan, tersenyum ke arahnya. Jawaban inilah yang terbaik untuk saat ini.
________ ^ ^ _________
Sudah dua minggu sejak aku meninggalkan korea dan menetap di amerika. Hae banyak membantuku di sini sebagai penerjemah. Dia membantuku mempelajari bahasa inggris dan mengenalkan tempat-tempat yang biasa dikunjunginya. Ketika aku kesulitan dengan penelitian yang kulakukan, dia selalu bersedia membantuku begadang tengah malam menyelesaikan laporanku. Aku tidak yakin semua ini akan berjalan lancar jika tidak ada hae.Tapi entah kenapa hingga saat ini aku tidak bisa mencintainya. Hae bagai seorang kakak yang tidak pernah kumiliki, perasaan itu tidak bisa berubah hingga sekarang. Sedangkan perasaanku pada kyu, tetap seperti itu. aku tidak bisa menghapusnya dari ingatanku sedikitpun. Jika sedang rindu padanya aku akan menatap gelang pemberianya dan berharap seandainya dia di sini. Aku tau itu bodoh, bodoh sekali. mengharapkan seseorang yang bahkan tidak memperdulikanmu sekalipun. Benar-benar bodoh.
Appa dan sarang omma rajin meneleponku, tidak perduli meskipun biayanya mahal. Seon woo rajin mengirimiku email dan video rekamannya untuk menghilangkan kerinduanku. Tapi kyu….dia tidak pernah menghubungiku sekalipun, bahkan sms pun dia tidak pernah. Apa aku begitu tidak berharga dimatanya, bahkan sebagai noona nya??
Drrt..Drrt..Drrt..
Getaran di handphoneku membangunkanku ke dunia nyata. Kuhapus air mataku dan mengangkat telepon, “Yoboseyo??”
“Eun hae…bisakah kamu ke taman sekarang. Ada sesuatu yang terjadi” kata hae cepat dan mematikan telepon sebelum aku bertanya lebih lanjut.
Sesuatu yang terjadi?? Apa yang terjadi pada hae??
Dengan panik kuambil jaketku dan bergegas menuju taman. Bayangan-bayangan buruk menghantui pikiranku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada hae??
Taman sudah penuh dengan kumpulan orang. Semuanya berkumpul mengelilingi seseorang yang tampak berdiri dengan berani di atas podium. Orang itu mengenakan topi dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
“Hiiii everybody. Lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang sangatttt kucintai. Kuharap dia mendengarnya.”*mav pakai b. indonesia, habis author gak bisa b.inggris sih. Hehehe*
Terdengar tepukan meriah dan orang itu mulai bernyanyi
Today, i wander in my memory
I’m pasing around on the end of this way
You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more
I’m losing my way again
I’m praying to the sky i want see you and hold you more
that i want to see you and hold you more
It can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
i cannot send you away one more time
i can’t live without you
it can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
my bruised heart
is screaming to me to find you
where are you?
can’t you hear my voice?
to me…
if i live my life again
if i’m born over and over again
i can’t live without you for a day
You’re the one i will keep
you’re the one i will love
i’m…yes because i’m happy enough if i could be with you
Aku tau orang itu. Orang yang selalu memamerkan kemampuan menyanyinya dihadapanku meskipun aku menyuruhya diam. Orang yang selalu mengganggu waktu belajarku dengan menyanyi keras-keras di depan kamarku. Orang yang selalu membuatku kesal karena menghabiskan waktu terlalu banyak di kamar mandi dengan alasn berlatih menyanyi. Orang yang kuakui memiliki suara seindah malaikat, meskipun tidak kukatakan padanya. Aku tau siapa dia.
Aku harus pergi dari sini. Jangan sampai dia melihatku.
Dengan cepat aku berlari pergi dari taman itu ketika seseorang memegang tanganku erat. “Jangan pergi. Lihat dia sampai selesai. Kamu tau, dia datang ke sini hanya untukmu” kata hae tegas menatapku tajam.
Aku menggelengkan kepalaku, menatapnya dengan panik. “Aku tidak bisa hae. Aku harus pergi sekarang!!!” jeritku tercekat ketika melihat orang yang sangat kukenal itu turun dari podium dan mulai mendekat ke arahku. Dengan terpaksa akhirnya kuinjak kaki hae dan berlari pergi ketika hae melepas pegangannya.
Dia mengejarku!!! Ottokhae???
Tangan itu meraihku tepat sebelum aku naik bus. Ditariknya tanganku menuju salah satu lorong yang tersembunyi. Tidak memeprdulikanku yang terus meronta. Dirapatkannya tubuhku ke dinding, mengurungku dengan kedua tangannya. Matanya menyipit menatapku tajam.
“Kenapa kamu lari?? Kenapa kamu pergi tanpa bilang apa-apa padaku?? Kenapa kamu harus pergi dengannya?? KENAPA??” Didekatkan tubuhnya ke arahku, membuatku semakin merapat ke dinding. Wajahnya terlihat berbahaya, menyimpan berbagai kemarahan yang seakan siap meledak. “LIHAT AKU!!” Diarahkannya wajahku persis menatap matanya.
“A…a..aku harus pergi. Kumohon biarkan aku pergi kyu” kataku pelan dengan nada memohon. Air mata sudah membasahi pipiku. Aku sudah tidak kuat menahan perasaan ini, jika tidak segera pergi pertahananku bisa runtuh.
Pertahanan kyu mulai mengendur ketika melihatku menangis. Kuambil kesempatan itu dan berlari pergi menjauh darinya. Aku tidak sadar bahwa laripun sia-sia, aku tidak tau sama sekali daerah ini. Bagaimana aku akan keluar??
Sebelum aku sempat mencari jalan keluar, kyu sudah menarikku dan mencium bibirku kasar. Aku hanya bisa diam ketika dia menciumku, shock dengan apa yang terjadi. Kenapa kyu menciumku??
“Saranghae…saranghae eun hae” katanya pelan di telingaku begitu dia melepas ciumannya. Suaranya tampak lelah, seakan semua bebannya terlepas dalam satu hentakan. “Aku berusaha menahannya. Aku berusaha menganggapmu sebagai noonaku, menganggapmu sebagai keluarga. Tapi aku tidak bisa. Semakin hari, aku semakin tersiksa melihatmu dekat dengannya. Aku tidak suka melihatmu berbicara dengannya, tertawa, bahkan tersenyum padanya.”
Dia mengambil nafas dalam dan mulai melanjutkan kata-katanya, “Awalnya kupikir perasaan ini akan menghilang begitu aku memiliki seseorang untuk mengisi hatiku sehingga aku bisa menganggapmu sebagai seorang noona. Tapi tiba-tiba kamu menjauh dariku, membuatku semakin tersiksa karena tidak bisa bertemu bahkan berbicara denganmu. Kamu selalu dengannya” kyu menggertakkan giginya kuat, menahan amarah. “Apa kamu tau?? Aku hampir saja gila ketika appa dan amma berkata bahwa kamu pergi ke amerika untuk waktu yang lama dengan hae. Aku sudah akan menyerah saat itu jika seon woo tidak menunjukkannya”
“Menunjukkan apa??” tanyaku kebingungan mendengar kata-katanya.
Kyu sudah berdiri tegak dihadapanku dan menatapku lembut. Dikeluarkannya sebuah buku dari dalam tasnya dan diserahkannya padaku. “Buku harianku!!” aku mengambil buku itu dari tangannya.
“Seon woo yang mengambilnya” jelas kyu cepat ketika melihatku menatapnya dengan pandangan menuduh. “Aku pernah bilang kan padamu ketika aku yakin orang yang kucintai hanya akan memandangku dan bersedia menjadi milikku maka aku tidak perduli apapun yang terjadi akan kukejar dia bahkan sampai ujung dunia sekalipun. Setelah aku membaca buku harianmu, aku yakin kamu juga mencintaiku” Matanya memandangku lembut, dikeluarkannya sebuah kotak dari sakunya.
Kyu berjongkok di hadapanku, mengulurkan sebuah kotak berisi cincin perak yang pernah kulihat. “Aku tau ini terlalu cepat. Tapi aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain. Cukup aku saja yang memiliki seluruh hidupmu. Eun hae, maukah kau menikah denganku??”
Aku menatapnya ragu, tdak yakin dengan jawabanku. “Appa?? Omma??”
“Aku sudah ceritakan semuanya pada jung soo appa dan omma. Mereka menyerahkan segala keputusan pada kita. Yang terpenting bagi jung soo appa dan omma, kita bahagia dengan keputusan yang kita buat” Kyu menatapku mantap dan tanpa keraguan.
Apa ini maksud perkataan sarang omma di bandara waktu itu. Apa sarang omma tau bahwa aku mencintai kyu??
“Jadi bagaimana??” tanyanya ketika melihatku hanya diam.
Aku hanya menatapnya dan mencium bibirnya sekilas. Kyu menatapku kaget dan wajahnya mulai berubah warna menjadi merah. “Apa itu masih belum cukup??” kataku jail melihatnya tampak gugup dan wajahnya menjadi lebih merah. Kuambil cincin itu dan memakainya tepat di jari manisku.
Kupeluk tubuhnya erat dan berbisik pelan, “Saranghae kyu…”
[epilog]
1 years later~
Aku membuka mataku perlahan dan menyadari ada seseorang disampingku. Kutengok sebelahku dan kudapati seseorang tidur tepat di sebelahku.
“KYUUU!!!!!!” jeritku keras membuatnya terlonjak keras dari kasur.
“Waeyo?? Waeyo?? Ada kebakaran?? Pencurian??” teriaknya panik menatap sekeliling dengan waspada.
“Andwae!!! Apa yang kamu lakukan di sini??” aku menatapnya dengan kebingungan. Kyu hanya mengenakan celana pendek dan kaos dalam. Apa yang terjadi semalam??
“Memang kamu tidak ingat yang terjadi semalam??” tanyanya pura-pura kaget. “Kita kan udah…” kyu tidak melanjutkan kata-katanya, matanya menatapku dengan pandangan mesum.
Aku menatapnya panik. Memang apa yang terjadi semalam??
Melihat wajahku yang panik kyu tertawa keras. Aish~pasti dia mengerjaiku. Dengan kesal kulempar bantal ke arahnya dn beranjak pergi.
“Mian..aku kan hanya bercanda. Habis lucu sih lihat wajahmu yang panik kayak gitu. Hahaha” kyu mendekatiku dan memamerkan senyum permohonan maaf.
“Ngapain kamu di sini?? Appa dan sarang omma tau?? Kamu gak kabur kan” aku menatapnya penuh selidik. Mengenalnya selama setahun, membuatku semakin hafal dengan kebiasaannya.
“Aniyo…bahkan omma yang menyuruhku datang ke sini untuk memastikan bahwa kau tidak selingkuh” jawabnya santai sambil cengar-cengir. Diikutinya aku kemanapun aku pergi.
“Aishh~omma…ada-ada saja. Lalu kenapa kamu tidak menginap di kamar hae aja sih.”
“Aniyo..daripada dengan hae lebih baik denganmu saja. Lebih hangat. Hahaha. Aduhhh ” aku menendang kakinya tepat di tulang keringnya. Dia mengaduh keras sambil memegang bagian kakinya yang sakit.
“Mau kemana??” tanyanya ketika melihatku memakai jaket dan merapikan rambutku.
“Ke tempat hae. Menyuruhnya membawamu pergi”
“Ahh~eun hae…aku tidak mau di sana. Lebih enak di sini denganmu. Ayolah” matanya menatapku penuh permohonan. Menyebalkan~dia pakai serangan wajah mememlas lagi.
“Aishh~baiklah…” kyu menatapku gembira. “Aku mau tidur lagi. Kamu tidur di sana” teriakku ketika melihatnya akan kembali ke kasur, menunjuk sofa di depan tv.
Tanpa memeprdulikan protesnya aku neik ke atas kasur dan mulai melanjutkan tidurku.
Baru beberapa menit aku tidur, badanku sudah terasa berat sekali. Kusibakkan selimutku dan mendapati kyu tidur di sampingku lagi sambil memelukku erat. Kuamati wajahnya yang tertidur bagai bayi dan memandang jari manis tangannya yang memiliki cincin yang sama denganku. Tiga bulan setelah aku menerima cincin darinya, dia memintaku untuk bertunangan dengannya secara resmi. Disaksikan appa dan sarang omma, serta seon woo dan hae kami bertukar cincin.
Hidupku benar-benar berwarna sejak mengenalnya. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya. Kudekatkan tubuhku dengannya dan memulai kembali tidurku yang tertunda.

0 comment:

Uri Facebook


Followers

About Me